|
Hidangan Bihun Jagung on KOMPAS.com |
|
|
|
|
Written by Ben
|
|
Thursday, 27 August 2009 10:34 |
|
Ny Tuti Soenardi Sekarang telah semarak produk lokal dari umbi-umbian dan lainnya yang dibuat menjadi tepung, selain itu dijumpai juga aneka mi dan bihun dari tepung umbi-umbian atau kacang-kacangan dan lainnya. Saat ini juga mulai dikenal bihun jagung. Hadirnya aneka tepung lokal baru akan dapat mendampingi tepung beras untuk pembuatan kue tradisional dengan rasa dan penampilan dijamin dapat memenuhi selera. Demikian juga dengan bihun dari jagung, diharapkan dapat mengurangi pemakaian beras untuk bihun. Bukan berarti ini akan menghilangkan pemakaian bihun dari tepung beras, tetapi untuk menambah keragaman produk yang telah ada supaya dapat mengatasi tingginya minat masyarakat. Bihun jagung dapat diandalkan sebagai makanan utama dengan diolah menjadi bihun goreng dan bihun rebus. Hanya saja perlu diingat komposisi masakan yang mengandung lauk-pauk (protein) dan sayuran untuk memenuhi kelengkapan dalam variasi makan utamanya sehingga jumlah kelengkapannya perlu diperhitungkan. Misalnya, 1 porsi bihun goreng ditambah 1 butir telur, 100 gram tahu, dan 50 gram sayuran cukup untuk memenuhi porsi makan siang ditambah buah sebagai pelengkap. Bihun juga dapat dibuat menjadi penganan atau selingan, misalnya serikaya duren pisang; lumpia basah isi bihun sayuran; kroket bihun; arem-arem bihun dan lainnya. Di sini ada contoh resep hidangan dari bihun jagung dan srikaya bihun. Selamat mencoba. Serikaya Duren Bihun Jagung Untuk : 10 porsi 1 porsi : 180 Kalori Bahan: * 4 btr telur ayam * 200 gr daging durian * 400 ml santan * 100 gr gula pasir * Garam secukupnya * 100 gr bihun jagung, diseduh * 200 gr pisang tanduk, potong dadu kecil * 3 lbr daun pandan wangi Cara membuat: 1. Telur ayam dikocok lepas, masukkan durian, santan, gula dan garam, aduk rata, sisihkan. 2. Ambil mangkok-mangkok kecil tahan panas, beri daun pandan di dasarnya masukkan bihun dan potongan pisang, lalu siram dengan adonan telur, beri potongan daun pandan diatasnya. 3. Panaskan kukusan hingga mendidih, kecilkan apinya, kukus serikaya hingga matang selama ± 30 menit dengan api kecil, angkat. 4. Hidangkan. Kering Bihun Untuk : 10 porsi 1 porsi : 134 Kalori Bahan: * 200 gr bihun jagung * 1 btr telur ayam dibuat orak-arik * Minyak untuk menggoreng * 2 sdm minyak untuk menumis * 50 ml air asam jawa * Garam secukupnya * 3 sdm gula pasir Bumbu yang dihaluskan: * 50 gr cabai merah dihaluskan * 2 siung bawang putih * 10 gr ebi Cara membuat: 1. Bihun jagung digoreng kering, sisihkan. 2. Tumis dengan minyak bumbu yang telah dihaluskan, beri air asam, garam dan gula, masak hingga mengental, masukkan bihun yang telah digoreng, aduk rata, tambahkan telur orak-arik, aduk rata, angkat. 3. Hidangkan bersama tahu goreng dan taoge panjang. source : http://koran.kompas.com/read/xml/2008/08/24/01271542/hidangan.bihun.jagung |
|
Makanan Alternatif Ramaikan Pameran Pangan |
|
|
|
|
Written by Ben
|
|
Sunday, 23 August 2009 14:54 |
|
| | | BANDAR LAMPUNG (Lampost): Berbagai makanan alternatif banyak dipamerkan dalam Indonesian Food Expo (IFE) 2007 yang digelar di PKOR, Way Halim. Stan Jawa Tengah misalnya menampilkan makanan alternatif yang terbuat dari komoditas jagung, ubi, dan sagu. Menurut Kasubbid Pemasaran dan Promosi Badan Bimbingan Masyarakat Ketahanan Pangan (BBMKP) Provinsi Jawa Tengah Joko Widodo, Kamis (6-12), ketiga komoditas tersebut saat ini bukan lagi sekadar makanan pengganti, melainkan juga merupakan makanan alternatif. Apalagi saat ini produksi beras dalam negeri makin menipis. Joko menjelaskan saat ini kondisi masyarakat sudah sangat tergantung kepada beras sebagai makanan pokok utama. Ketergantungan itu juga menjadi masalah dalam konsep ketahanan pangan, selain kelaparan. "Kalau stok beras menipis dan bahkan habis, masyarakat kita pasti akan kaget," katanya saat ditemui Lampung Post di stan Dinas Pertanian Provinsi Lampung. Pihaknya menganggap jagung, ubi, dan sagu sebagai pilihan lain makanan pokok walaupun saat stok beras masih melimpah. "Sekali-kali stok beras disimpan dan makan jagung, ubi, atau sagu," katanya. Joko mengatakan terdapat dua jenis komoditas ubi kayu yakni talas dan jalar. Dengan fermentasi, jenis ubi kayu bisa diolah menjadi tepung. "Tepung ini dapat mengganti 60% gandum," kata Joko. Demikian pula komoditas sukun yang dapat dikembangkan sebagai makanan pokok alternatif. Beberapa produk alternatif tersebut dapat diproses menjadi tepung. Dan, dari tepung bisa menjadi kue atau roti. "Kini, masyarakat sudah tidak perlu khawatir lagi bila stok beras menipis. Sudah ada makanan alternatif jagung, ubi, dan sagu. Tinggal berpikir bagaimana caranya agar ketiga produk tersebut bisa memasyarakat," kata Joko. Stan lain, PT Subafood Pangan Jaya yang berasal dari Tangerang, juga memperkenalkan bihun yang berbahan dasar jagung. Bihun jagung ini dianggap bisa mi instan yang sekarang telah digandrungi masyarakat. "Ini bisa menjadi alternatif. Saat maraknya mi instan yang belum tentu gizinya memadai," ujar supervisor perusahaan tersebut Arif. Menurut Arif, bihun ini diproses dari pati, setelah air dan minyak jagung dipisah terlebih dahulu saat melakukan proses. Pihaknya kini telah memperluas jaringan dengan membuka cabang di beberapa provinsi, termasuk Lampung. */E-2 *=Yoso Muliawan
|
|
Subafood Perkenalkan Bihun Jagung Bebas Kolesterol |
|
|
|
|
Written by Ben
|
|
Sunday, 23 August 2009 14:43 |
|
BANDAR LAMPUNG (Lampost): PT Subafood Pangan Jaya memperkenalkan bihun jagung bebas kolesterol di ajang Lampung Expo 2007. Produk terbuat dari pati jagung ini aman dikonsumsi untuk kesehatan. Sales dan Promotion PT Subafood Erben Norman, Kamis (30-8), mengatakan produk ini sudah dipasarkan di Lampung melalui distributornya PT Fajar Lestari yang beralamat di Way Lunik, Panjang, sejak tiga bulan lalu. Namun, penjualannya masih terbatas di beberapa pasar seperti Pasar Panjang, Pasar Koga, Pasar Tugu, dan Chandra Superstore. Terdapat dua varian produk bihun jagung dengan merek dagang Subahoon. Yaitu bihun olahan dan bihun instan. Untuk bihun olahan dijual dalam tiga kemasan, isi 100 gram, 200 gram, dan 400 gram. |
|
Last Updated on Monday, 24 August 2009 04:09 |
|
Banyak Kendala Budidaya Jagung Hibrida |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 18 August 2009 06:32 |
|
Jagung adalah tanaman yang sangat akrab dengan petani di Sulawesi Tenggara. Komoditas ini merupakan salah satu bahan pangan andalan. Bahkan, sebagian masyarakat Sulawesi Tenggara, terutama di daerah kepulauan (Muna, Buton, dan Wakatobi), menjadikan jagung sebagai bahan makanan pokok di samping beras dan umbi-umbian. Tak heran, rencana mengembangkan jagung hibrida di Pulau Sulawesi hingga mencapai produksi lima juta ton pada tahun 2010 merupakan peluang besar bagi petani Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk meningkatkan produksi dan sekaligus pendapatan mereka. Rencana itu terungkap dalam acara penanaman jagung di Kabupaten Konawe Selatan, awal Agustus lalu, yang dihadiri Wakil Presiden M Jusuf Kalla, Menteri Pertanian Anton Apriantono, serta Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad yang sering dijuluki "gubernur jagung". Pertanyaannya, bagaimana peluang emas itu bisa diwujudkan bukan saja untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani, tetapi juga meningkatkan kegiatan ekonomi dan perdagangan sehingga membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Harus dicatat bahwa komoditas jagung yang dihasilkan petani Sultra selama ini bersumber dari benih lokal yang ditanam secara tradisional. Selain tingkat produktivitas yang rendah, jagung lokal itu tidak laku di pasaran dalam negeri sebagai bahan baku industri pakan. Kondisi sosial petani jagung juga merupakan tantangan tersendiri bagi usaha pengembangan jagung hibrida. Sebagian besar petani, terutama penduduk asli Sultra, masih bergantung pada kemurahan alam. Belum akrab dengan teknologi, seperti penggunaan pupuk dan obat-obatan. Padahal, tanpa perlakuan khusus, benih jagung hibrida tidak bakal mencapai tingkat produktivitas standar, yaitu 7 ton-8 ton per hektar. |
|